Tulisan ini merupakan salinan dari https://diskursus.id/aku-yang-terus-membandingkan
Hari ini aku merasa bersalah karena main game (Minecraft) dengan durasi yang lama banget. Entah kenapa aku merasa bersalah.
Bingung.
“Apakah aku layak untuk bersama-sama?” Aku mulai bertanya ke diriku sendiri.
“Bersama siapa?”
“Bersama orang lain. Siapa saja. Aku masih sedang tidak merasa layak.”
Yang sedang kupikirkan sekarang adalah bagaimana supaya aku menulis jurnal yang rapih. Aneh. Padahal itu yang membuatku sulit menulis. Juga, jurnal ini “mungkin saja” nggak ada yang baca selain diriku sendiri.
“Apakah aku masih terlalu keras dengan diriku sendiri?” mencoba mencari tahu lebih dalam.
“Hm.. Aku rasa iya. Dan, tidak.” aku menjawab dengan sedikit keraguan. “Iya, karena aku merasa beban terhadap sesuatu yang ingin kulakukan tapi entah siapa yang memberikan beban itu—aku tidak tahu. Tidak, karena aku merasa orang lain punya mental yang lebih kuat dibanding diriku. Hidup mereka lebih keras—sepertinya.”
“Tapi, kenapa kamu membandingkan dengan orang lain terus?”
“Terus, membandingkan dengan siapa lagi?” Jawabku mulai frustasi.
“Dengan dirimu sendiri, mungkin?”
“Bagaimana itu masuk akal?” aku bingung. “Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa aku membandingkan dengan diriku sendiri ketika aku adalah, aku?”
“Kamu bandingkan dengan diri kamu yang dulu. Kamu yang sekarang itu berbeda dengan diri kamu satu detik berlalu.” berusaha mengingat perkataan seorang motivator dan konten-konten self-improvement yang bertebaran luas di media sosial. “Ingat, satu persen lebih baik setiap harinya.”
“Tapi, aku merasa itu semakin membuatku beban. Semakin aku banyak mengetahui sesuatu, semakin aku malas untuk bergerak. Apakah ini yang dinamakan kutukan pengetahuan?”
Sepertinya, aku harus balik ke persoalan paling dasar tentang hidup. Apa tujuanku hadir di dunia sekarang. Ya, pertanyaan itu layak dijawab. Tapi, aku sudah tahu jawabannya. Yaitu, untuk beribadah kepada Allah Swt.
“Terus, apa lagi masalahnya? Kamu punya masalah apa?” masih penasaran dan coba menggali lagi.
“Masalahnya adalah, aku merasa tidak layak untuk bahkan sekadar menjalani hidup normal seperti orang lain.”
“Lagi, dan lagi. Kenapa kamu selalu membandingkan diri dengan orang lain?” sisi penanya mulai frustasi.
Serius, aku malah nggak ngerti kenapa nggak membandingkan? Bukan kah semua orang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain? Bukan kah itu normal?
“Jujur, aku takut dengan rencanaku maen ke tempat kelahiranku nanti H-1 lebaran bersama keluarga kecilku.” akhirnya aku mulai terbuka dan jujur. “Aku takut mereka, saudara-saudaraku yang sudah kutinggalkan selama lima tahun, nggak mau menerimaku lagi apa adanya.” Aku ingat dengan rencana yang kuceritakan ke istriku untuk maen ke tempat kelahiranku. Akhirnya, di lebaran ini, setelah lima kali lebaran berturut-turut, aku dengan sengaja, dengan sadar merencanakannya. Karena memang sudah selama itu—lima tahun—aku belum pernah pulang ke tempat kelahiranku. Bukan karena ada ketegangan antar keluargaku dan keluarga istriku, bukan. Karena aku, aku yang tidak mau.
Bahkan, aku lebih nyaman menggunakan kata “maen” daripada “mudik/pulang kampung.” Bahkan, aku lebih nyaman merencanakan untuk bertemu teman-teman SMA-ku untuk seru-seruan daripada bertemu dengan saudara-saudaraku.
Sudah sejak lama—sebelum kuliah atau bahkan “mungkin” setelah ku dipesantrenkan—aku menganggap tempat kelahiranku bukan lah “rumah” lagi. Hanya tempat bermain seperti halnya tempat yang memiliki wisata seru untuk dikunjungi.
“Sebentar, kenapa kamu mau mereka menerima kamu apa adanya?” sisi penanya menyela.
“Iya itu masalahnya, aku juga nggak tau. Aku hanya merasa mereka harus menerima aku apa adanya.” masih dengan kebingungan yang sama sejak awal. “Coba kasih tau aku kalau memang aku salah. Berikan penjelasan yang membuatku mengerti, kenapa mereka nggak perlu menerima aku apa adanya?”
“Aku juga bingung. No idea.” sisi penanya ikut menyerah.