Saya melihat sebagian orang ada yang kaget ketika pegawai MBG diangkat menjadi ASN, bahkan membanding-bandingkannya dengan profesi lain yang—mereka mengganggap—harusnya lebih layak Guru (Honorer) yang diangkat lebih dulu jadi ASN.
Iya! Saya juga setuju!
Tapi, apakah kita lupa, bahwa sejak awal Presiden kita dulu berkampanye, program kampanyenya bukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tapi untuk memperbaiki gizi anak demi mencegah stunting? Iya, kan?
Makan Bergizi Gratis (dulunya Makan Siang Gratis), itu kan emang jadi program andalannya. Keliatan jelas bahkan sejak sebelum hasil suara diumumkan, dengan PD-nya program tersebut diuji coba (sumber: BBC News Indonesia).
Jadi, udah sewajarnya, ketika dia yang terpilih, maka prioritas anggaran negara akan dikerahkan lebih banyak ke program tersebut. Pengangkatan para pegawai MBG menjadi PNS adalah dampak logisnya saja. Menurut saya itu normal. Malah tidak konsisten kalau janji waktu kampanye dulu perbaikan gizi, tapi malah ngangkat Guru (Honorer) jadi ASN.
Nggak nyambung!
Kalau mau mempermasalahkan programnya, harusnya sejak awal jangan pilih paslon dengan program tersebut.
“Tapi kan, saya nggak pilih paslon tersebut?”
“Yaaa… hm. Ya udah, nggak usah kaget. Sabar haha.”
Kadang saya bingung sama hasil suara kemarin. Suara 58% itu ada orang benerannya nggak ya? Kayak yang nggak ada gitu.
Karena—kalau saya nih ya—saya belum nemu orang yang milih paslon tersebut sampai sekarang kalau saya tanya secara langsung, “Kamu kemarin milih paslon berapa?” Nggak ada tuh yg jawab milih paslon tersebut, apa mereka malu ya?
Atau bisa jadi saya aja kurang gaul? Kalian nemu nggak?
Jujur aja, sejak awal keluarnya hasil pengumuman resmi pemilihan presiden, saya sih udah lemes duluan.
Saya langsung memprediksi bagaimana nasib Guru (Honorer) ke depannya bakal seperti apa. Karena hal itulah, saya udah nggak kaget dengan berita pegawai MBG yang diangkat jadi ASN.
Lagi-lagi. Konsekuensi logis!
Daripada mempermasalahkan sesuatu yang imajiner—sesuatu yang di luar program MBG—seperti “kenapa Guru (Honorer) nggak disejahterakan?”
Udahlah, udah nggak akan dipikirin kalian tuh. Gedein lagi udah sabarnya. Fokus ke gimana supaya MBG ini beneran berjalan, pantau terus tuh program—kalau ada waktu itu juga, supaya nggak jadi program formalitas dan nggak dijadiin lahan basah untuk korupsi.
Atau..
Udah basah, ya? 🥲