Barusan, saya sempat merasa sedikit gusar—sedikit aja kok, nggak banyak 😌—hanya karena sebuah percakapan singkat di WhatsApp.
Ceritanya tuh, saya share loker dari kantor tempat kerja saya, yang lagi butuh karyawan tambahan. Niat saya hanya ingin membantu orang-orang yang ingin kerja dan belum dapat kerja, tapi respons yang saya terima justru membuat saya Speechless.
Seorang kawan, yang saya tahu betul kapasitasnya—dia lulusan S2, cerdas, dan punya kemauan belajar—malah bertanya hal-hal yang jawabannya sebenarnya udah terpampang jelas di tautan loker yang saya share. "Pilihin yang rada cocok dong, Mat," katanya.
Ada sesuatu yang sangat ironis di sini, bagaimana mungkin seseorang yang sudah menempuh pendidikan setinggi itu justru merasa begitu tidak berdaya untuk sekadar menentukan pilihan hidupnya sendiri? Atau saya terlalu serius menanggapinya, kah 😅?
Bukan tanpa alasan sebenarnya, sebagai seseorang yang pernah tinggal di kampung kelahiran yang saya anggap perilaku orang-orangnya agak “toksik”, saya sangat familiar dengan kalimat itu. Saya jadi mudah mencium aroma inferioritas dari seseorang, karena dulu saya juga pernah seperti itu dan sedang berusaha berubah 🥲. Saya merasa itu bukan permintaan tolong biasa, tapi permintaan tolong agar saya bisa menjadi “orang dalam” untuknya, agar dia bisa dititipkan supaya lolos. Betul, nggak? Mungkin iya, mungkin nggak.
Kalaupun bukan tentang “orang dalam”, tetap saja akan ada hal yang tidak baik terjadi kepada kami. Dengan saya memilihkannya dan ketika pilihan itu gagal dia capai, akan ada potensi kesan yang tercipta di benaknya bahwa pilihan saya salah dan saya yang harus bertanggung jawab.
Apakah dunia selalu berjalan seperti ini? Saya sih nggak mau seperti itu. Namun, saya berharap saya yang salah dan belum mengerti saja.
Saya hanya merasa, terlalu ada banyak hal yang sifatnya mendasar dan penting dalam hidup, namun sering diremehkan. Dan, saya belum bisa menjelaskannya apa saja itu.
Kejadian ini membawa ingatan saya terbang kembali ke kebiasaan lama para orang tua di kampung kelahiran saya. Saya sering melihat pola asuh yang terasa terbolak-balik.
Waktu saya kecil, saya biasa diperlihatkan—juga sedikitnya merasakan—didikan yang sangat keras, dibentak, direndahkan ketika gagal, dan dituntut untuk "jangan cengeng" karena berharap ketika nanti dewasa, bisa menjadi kuat dan mampu berhadapan dengan dunia luar yang kejam.
Tapi anehnya, begitu sudah dewasa dan benar-benar berhadapan dengan dunia kerja yang nyata, kenapa saya malah—seringkali—melihat sikap cengeng, tidak tegas, lemah, dan tidak bertanggung jawab, seperti maen titip-titipan orang atau bangga menjadi “orang dalam” di tempat kerja?
Bahkan, mereka seperti membuat standar baru yang tidak tertulis, yaitu mereka belum benar-benar merasa saling menolong kalau belum menjadi “orang dalam” atau belum bisa mengantar orang lolos sampai ke meja kantor.
Lagi-lagi, apakah saya naif atau ada hal yang belum saya mengerti? Entah. Saya berharap ada yang segera menyadarkan saya (ini bibit inferior sebenarnya haha).
Kenapa menjadi “orang dalam” buruk menurut saya?
Gini, kalau saya pilih ngebantuin mereka dengan menjadi "orang dalam", saya sebenarnya sedang membisikkan pesan halus yang menghancurkan harga diri mereka yang butuh kerjaan: bahwa mereka tidak akan pernah cukup hebat tanpa ngetek (baca: minta bantuan) sama saya.
Bantuan macam apa yang sebenarnya sedang saya berikan? Apakah saya sedang berusaha menyelamatkan mereka dari kerasnya ekonomi, atau justru malah sedang mematikan dan menghancurkan nyali mereka pelan-pelan?
Kasih sayang yang berlebihan seperti ini sama halnya seperti memotong sayap burung agar dia nggak jatuh saat terbang, yang akhirnya malah membuat dia nggak bisa terbang sama sekali.
Buat saya, membiarkan seseorang untuk menganalisis, memilih, dan memutuskan sendiri langkah profesionalnya adalah bentuk penghormatan tertinggi. Saya kepengen dia merasakan apa yang pernah saya rasakan ketika melamar kerja, deg-degan saat mengirim lamaran, rasa cemas saat menunggu panggilan, dan kebanggaan yang meledak di dada saat keterima karena kemampuan sendiri. Itu bisa jadi "obat" bagi rasa rendah diri yang berlebihan atau inferioritas yang selama ini mungkin menghantuinya. Disamping tetap mengucap rasa syukur yang mendalam kepada Allah Swt.
Menolak untuk menjadi “orang dalam” bukanlah tanda kita pelit ngasih bantuan, melainkan bukti bahwa kita sangat menghargai martabatnya sebagai manusia dewasa. Sebab pada akhirnya, kepuasan terbesar dalam hidup bukanlah saat kita sampai di puncak karena ngetek sama orang lain, melainkan saat kita menoleh ke belakang dan melihat jejak kaki kita sendiri yang berhasil menaklukkan setiap ujian dan cobaan yang ada.
Jadi, semangat terus, percaya diri, dan jangan menyerah!